Kisah Pilu Pemerkosan Gadis “Sum Kuning”

760 views


Kisah Pilu Pemerkosan Gadis “Sum Kuning” |Kisah pilu penderitaan seorang gadis mangsa jenayah yang di beri nama “Sum Kuning” tentu tidak ramai yang tahu,namun di tahun 1970 kisah sum kuning adalah sebuah kes jenayah rogol yang sangat popular di beberapa negara termasuk Malaysia, Singapure tentu sekali negara tempat berlakunya kejadian ini di Indonesia Yogyakarta.

Dikisahkan Sum kuning atau Sumarijem 17 merupakan seorang gadis perawan desa cantik yang datang ke kota metropolitan untuk mengadu nasib atas kesulitan hidup di kampung.

Sumarijem bekerja sebagai penjual telur rebus keliling,selepas jam 17.00. Malam , 21 September 1970, Sumarijem yang terlewat bas terpaksa berjalan balik kerumah kerana terlalu lama berniaga.

Pinggiran Yogyakarta di tahun 1970 itu masih sepi. Sumaridjem berjalan dengan rasa was-was di hari menjelang gelap itu.

Ketika melintas di timur Asrama Polisi Patuk, tiba-tiba sebuah kereta dengan penumpang pemuda menariknya masuk kedalam kereta.

Ia berusaha untuk melawan,namun sekumpulan pemuda itu menyuntiknya dengan bius hingga separuh sedar.

Dalam Buku bertajuk Sam Kuning: Korban Penculikan pemerkosaan (1970) Sumaridjem berkata :

“Kain panjangngku disingkap sampai pada pusat dan aku terdengar pemuda-pemuda itu ramai-ramai menyanyi mengiringi rasa sakitku pada kelamin sebagai dimasuki benda keras.

“Sakit dan rasa nyeri luar biasa terasa hidup bagai di neraka sampai tiga kali.”

Kata penghantar buku kisah sum kuning

 

Tak hanya diperkosa,selepas puas kemaluan Sumaridjem juga disumbat dengan telor rebus sebelum membuang wanita malang itu di tepi Jalan Wates-Purworejo.

Seingatnya ketika dibuang,hari sudah gelap Sumaridjem yang tak berdaya itu berjuang keras berjalan menuju ke arah kota Yogyakarta.

Ketika hari agak hampir pagi , terlihat segelintir orang berlalu lalang. Dengan sisa uang beberapa sen dan tubuh tak berdaya, Sumaridjem menghentikan becak. lalu mengantarkannya ke rumah salah seorang langganannya di Bumijo, Nyonya Sulardi.

Nyonya Sulardi mengisakahkan keadaan Sumaridjem sangat menyedihkan ketika itu, kaki dan kainnya berlumuran darah mukanya pucat ketakutan.

Kebetulan jiran puan Sulardi merupakan seorang wartawan Mingguan pagi menghubungi rakannya Imam Sutrisno, wartawan Kedaulatan Rakyat untuk melaporkan kejadian itu kepada pihak polis.

Sebaik sahaja pihak polis datang Sumaridjem terus dibawa kehospital untuk mendapat rawatan serta pihak polis juga mendatangi tempat dimana Sumaridjem diperkosa dengan extrime.

Lalu Gegarlah apa yang menimpa Sumaridjem,orang-orang kemudian menamakan kes itu sebagai “Sum Kuning”

Akbar indonesia Yogyakarta tidak berhenti-henti membicarakan kes itu dalam beberapa hari,kes semakin hangat apabila beberapa wanita juga turut mengaku menjadi mangsa culik dan rogol oleh kumpulan pemuda itu.

Bahkan katanya 3 bulan sebelum kejadian menimpa Sumaridjem,pernah berlaku kes culik dan pemerkosaan terhadap seorang guru (gadis N) namun kes itu senyap tanpa sembarang siasatan.

Akan tetapi berlain dengan Sumaridjem yang di sokong oleh dua wartawan bernama besar ketika itu.

Seminggu berlalu suspek dalam kejadian itu tidak pernah tertangkap Sehinggalah isteri Pahlawan Ki Hadjar Dewantara mempersoalkan. “kenapa penculik Gadis sum kuning tidak tertangkap?”

Polis Yogyakarta ketika itu seolah di sambar petir dengan soalan itu dan Sumaridjem akhirnya mendapat pembelaan.

Akan tetapi nasib malang Sumaridjem kembali apabila dia dituduh telah membuat laporan palsu.Masyarakat ketika itu percaya suspek-suspek dalam kejadian itu melibatkan anak anak tokoh besar Yogyakarta.

Pada 28 September 1970, tersiar kabar bahwa penculik dan pemerkosa Sum dan Gadis N hanyalah cerita bohong sahaja.

Ribuan orang pun memadati Pusat polisi Malioboro untuk memastikan apakah dua gadis malang sum kuning sengaja mencari sensasi?

Kemudian penculik dan pemerkosa itu dilupakan,apa yang terjadi setelahnya justru Sumaridjem ditahan polisi setelah keluar dari hospital.

Hasil visum doktor yang menyebut adanya pendarahan alat kelamin akibat disumbat telur rebus , selaput dara koyak, dan luka di paha kanan-kiri seolah tidak lagi penting.

Sum kuning bersama puan Sulardi. dan wartawan mingguan Imam Sutrisno

Dalam posisi yang tersudut, Sumaridjem bercerita kepada wartawan Kedaulatan Rakyat Imam Sutrisno. Ia mengisahkan “ruang dimana dia ditahan dibatasi dan dia di ugut akan disetrum. Bahkan, muncul tuduhan bodoh Sumaridjem adalah anggota Gerakan Komunis Wanita Indonesia”

Bahkan sum dipaksa untuk menanggalkan baju, Alasannya, mereka akan mencari kalau di tubuhnya ada tanda lambang Komunis (palu arit)

Siapa suspek penyebab penderitaan Sumaridjem tak pernah terbongkar. Sumaridjem bahkan di tuduh “memberikan laporan palsu dan telah menyiarkan kabar bohong”.

Ekoran isu itu ,Semula jaksa menuntut Sumaridjem atas tuduhan memberi keterangan palsu dengan hukuman tiga bulan penjara.

Atas kegusaran ketidak adilan yang berlaku dan ketakutan orang awam Kepala Kepolisi Republik Indonesia membentuk satu tim khusus bernama Hoegeng untuk menyiasat semula kes Sum Kuning.

Tim berkenan mencatatkan terlibatnya anak-anak tokoh besar Yogyakarta dalam kejadian sum kuning namun penjabat itu membantah lewat media massa.

Hinggalah tim Hoegeng melaporkan kejadian itu pada Soeharto,dan beliau mengarahkan kes itu di ambil oleh Team Pemeriksa Pusat/Kopkamtib.

Kendali Hoegeng pun hilang dalam pengungkapan kes Sum Kuning Di kemudian hari, Anehnya orang dalam tim itu dibakarkan hilang satu persatu.

Hingga sampai sekarang siapa para pemerkosa itu tidak pernah terungkap dengan terang benderang.

Kisah misteri pemerkosaan Sum kuning pernah di filemkan pada tahun 1980-1981 Dengan tajuk “Perawan Desa” namun akhir dalam filem itu wanita yang melakokankan tokoh “Sum” mengaku telah membuat laporan palsu kerana mahu membalas dendam terhadap kekasihnya (anak tokoh besar) yang tidak mahu bertanggung jawab selepas dia dinyatakan hamil.

Filem itu turut menjadi filem terbaik dalam FFI & FFA 80 di indonesia ketika itu.

Tags: #Gadis #Kisah #Pemerkosan #pilu #Sum Kuning