AKU MENANGIS 6 KALI UNTUK ADIKKU

938 views

hadis

 

AKU MENANGIS 6 KALI UNTUK ADIKKU | Aku dilahirkan di dusun sebuah pegunungan yang sangat terpencil. Pekerjaan orang tuaku adalah membajak tanah kering yang kuning, dan bersama merekalah aku melewati hari-hariku. Dengan punggung yang menghadap ke langit, begitulah kebiasaan mereka saat bekerja. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku, yang mencintaiku lebih daripada aku mencintainya. Pada suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana hampir semua gadis di di dusun selalu memakainya, aku mencuri lima puluh sen dari laci lemari ayahku. Ayah segera mengetahuinya. Dia menginterogasi aku dan adikku.

Disuruhnya kami berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” ayah bertanya. Aku terdiam, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar suara pengakuanku, lalu dia berkata, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak mendapat hukuman…!” Lalu dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangan ayah dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marah sehingga ia terus menerus mencambuk adik sampai ayah kehabisan napas.

Setelah itu, ayah duduk di atas ranjang batu bata dan berkata dengan suara marah, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, itu sangat memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang…??? Kamu pantas dipukul sampai mati…!!! Kamu pencuri…!!! Tidak tahu malu…!!!” Ketika malam tiba, aku dan ibu memeluk adikku dalam rangkulan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak meneteskan air mata sedikit pun.

Di pertengahan malam, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Lalu adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.” Aku membenci diriku karena tidak memiliki keberanian untuk berkata jujur dalam pengakuan. Bertahun-tahun telah lewat, tapi kejadian itu masih terngiang-ngiang dalam pikiranku seperti baru kemarin rasanya. Aku tidak pernah lupa akan raut muka adikku ketika ia melindungiku.

Ketika itu aku berusia 11 tahun dan adikku 8 tahun.

Setelah adikku menyelesaikan pendidikannya di sekolah darjah, ia melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah. Dan pada saat yang sama pula, saya diterima di sebuah university. Pada suatu malam ketika ayah berjongkok di halaman, sambil menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus, lalu saya mendengar ayah berkata sambil menangis, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…!!!” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Itu tidak ada gunanya.

Kita tidak bisa membiayai mereka berdua sekaligus?” Ternyata adikku mendengar apa yang menjadi percakapan orang tua kami dan saat itu pula adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak ingin melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Tetapi ayah mengayunkan tangannya dan menampar adikku. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Biarpun aku harus mengemis di jalanan aku akan tetap menyekolahkan kalian berdua sampai selesai!”

Kemudian aku menghampiri adkikku dan memegang dengan lembut mukanya yang membengkak, dan berkata, “Anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan hidup yang penuh kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan ke perguruan tinggi. Sangat tidak disangka, sebelum subuh menjelang, ternyata adikku telah meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian kusam dan sedikit kacang yang sudah kering. Dia menyelinap ke samping tempat tidurku dan meninggalkan selembar kertas di atas bantalku, “Kak, masuk ke perguruan tinggi tidaklah mudah. Saya pergi mencari kerja dan mengiri kakak uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang.

Ketika itu aku berusia 20 tahun dan adikku 17 tahun.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari beberapa orang yang ada di dusun kami, dan ditambah dengan uang yang adikku dapatkan dari mengangkut semen di lokasi konstruksi ketika dia bekerja disana, aku akhirnya sampai di tahun ketiga. Pada suatu hari, ketika aku sedang belajar di kamarku, temanku masuk ke kamar dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar!” Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku, kataku dalam hati. Lalu aku keluar dan melihat dari jauh, ternyata adikku. Seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menghampirinya dia dan berkata, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kalau kamu adalah adikku?” Dia hanya menjawab sambil tersenyum tersenyum, “Coba lihat bagaimana penampilanku.

Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan air mata mulai memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli orang bilang apa! Kamu adalah adikku apa pun keadaanmu! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu.” Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.

Ketika itu aku berusia 23 tahun dan adikku 20 tahun.

Saat pertama kali aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Ibu tidak perlu lagi terlalu sibuk untuk membersihkan rumah kita!” Tapi katanya, sambil tersenyum, “Bukan ibu nak, tapi adikmu yang pulang lebih dari kamu awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.” Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat tubuhnya yang kurus dan sangat tampak di wajahnya, seperti seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut dengan kain. “Apakah itu sakit?” Aku bertanya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Itu tidak menghentikanku untuk bekerja dan…….” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.

Ketika itu aku berusia 26 tahun dan adikku 23 tahun.

Ketika aku menikah, akhirnya aku tinggal di kota. Sering sekali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami di kota, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka bilang sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku juga begitu, dia mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Nanti saya yang akan menjaga ibu dan ayah di sini.” Suamiku adalah seorang direktur di pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada salah satu departemen di pabrik suamiku, tetapi adikku selalu menolak tawaran tersebut.

Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, dan ia mendapat sengatan listrik, dan kami membawanya ke rumah sakit. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini.

Cobba lihat kamu sekarang, lukamu cukup serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?” Dengan wajah serius ia membela keputusannya, “Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan aku hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian aku berkata dengan terpatah-patah, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” Adikku menggenggam tanganku dan berkata, “Mengapa harus mengingat masa lalu?”

Ketika itu aku berusia 29 tahun dan adikku 26 tahun.

Tahun-tahun pun berjalan, akhirnya adikku menikah dengan seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Dengan cepat dan spontan, seperti tanpa berpikir ia menjawab, “Kakakku…!!!” Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak pernah kuingat.

“Ketika aku pergi sekolah saat SD, kakakku berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kami berjalan bersama selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang pulang juga bersama ke rumah. Suatu hari, aku kehilangan satu dari sarung tanganku dan kakakku memberikan satu dari miliknya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami sampai di rumah, tangan kakakku begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak saat itu, aku bersumpah, selama aku masih hidup, aku akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.” Tepuk tangan dari undangan yang memenuhi ruangan itu.

Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Tetapi selama ini kata-kata seperti itu susah kuucapkan dari mulutku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan pada saat itu, di depan para tamu, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Tags: #6 KALI #ADIKKU #AKU #Menangis #untuk